|
SI-10: PENGASUHAN Beberapa waktu yang lalu, ada seorang ibu yang sedang stress menelepon saya. Ibu ini kemudian curhat dan mengeluhkan keadaannya. Semula dia aktif berkarir dan memiliki banyak kesibukan di luar rumah, namun karena dia harus pindah keluar kota bersama suaminya yang akan merintis usaha baru, dia terpaksa “dirumahkan” bersama dengan anak tunggalnya yang masih batita. Ibu ini merasa bahwa dia menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang “kurang berguna” di rumah, dan dia pun merasa bahwa dia tidak tahan berada seharian bersama dengan anaknya. Emosinya menjadi cepat meledak, dan akhirnya dia merasa makin stress dengan keadaannya tsb. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa … Dalam kesempatan lain, saat saya memimpin sebuah seminar, ada seorang ayah yang bertanya. Setelah dia mendengar sesi saya ttg MI (multiple intelligences) dia mengatakan bahwa dia sebenarnya ingin dan menikmati waktu bersama anak-anaknya, tetapi dia merasa bukan tipe orang yang sabar untuk mengajari anaknya baca tulis. Saya pikir, sepertinya ada pemikiran yang KURANG TEPAT tentang mendidik dan mengasuh anak di antara banyak keluarga, termasuk keluarga Kristen. Tanpa sadar, kita dibesarkan dalam sebuah jaman yang lebih menghargai karir daripada rumah tangga. Sukses diidentikkan dengan karir yang bagus dan penghasilan yang tinggi. Kesibukan “di luar rumah” yang super padat akhirnya menjadi salah satu gaya hidup yang dikejar sekaligus dikeluhkan J oleh banyak keluarga. Mengasuh anak dianggap pekerjaan “rendahan” – karena itu dipanggilah si bibi / mbak / sus untuk menanganinya. Si ibu merasa sayang bila segala kepandaian dan ketrampilan yang dimilikinya harus “dikorbankan” demi mengasuh anak. Dalam kasus si ayah di atas … rupanya ada anggapan bahwa bila kita mau perhatian pada anak, maka SEMUA urusan anak mesti kita sendiri yang lakukan. Nah, ini kebalikan yang ekstrim dari pandangan pertama. Biasanya saya akan berikan advice yang sangat sederhana kepada para orang tua ini. Pertama, mengingatkan bahwa tugas utama kita sbg orang tua adalah “mendidik” anak. Dg kata lain, itu berarti men-transfer nilai-nilai, men-transfer keyakinan, men-transfer iman dan kepercayaan kita kepada anak. Dan ini tidak mungkin bisa dialihkan kepada orang lain. Kedua, memang bukan berarti bahwa setiap detail kegiatan anak mesti kita yang tangani. Dalam kasus si ayah, kalo emang merasa ga pe de ngajarin baca tulis, ya ga apa … ada banyak orang yang bisa menggantikan tugas tsb. TETAPI, tugas men-transfer nilai, keyakinan, dan iman – itu yang tidak bisa dialihkan pada orang lain. Apa ini berarti kita menjadi “guru agama / guru spiritual” anak kita? YA … dalam arti fungsinya, tapi TIDAK dalam model pembelajaran formal. Buat kita yang belajar ttg Social Intelligence, itu berarti kita MENGAJAR melalui PENULARAN EMOSI … Karena yang tertular bukan Cuma “emosi” semata, melainkan apa yang ada di dalam emosi tsb, yaitu nilai, keyakinan, dan iman kita. Nah, sekarang kita beralih pada eksperimen yang dilakukan terhadap para tikus. Saat bayi tikus lahir, induknya biasa menjilati seluruh tubuh si bayi dan mengelus-elusnya. Aktivitas ini ternyata membuat si bayi tikus kelak tumbuh menjadi tikus yang cerdas. Dan memang benar, saat otaknya di-scan, terlihat bahwa hippocampus (sebuah area di otak yang bertanggung jawab thd ingatan dan pembelajaran) lah yang dirangsang pertumbuhannya saat si bayi tikus tsb dijilati dan dielus oleh induknya. Sebaliknya, bayi tikus yang mendapat lebih sedikit perhatian dari induknya, atau bahkan terpisah dari induknya sejak masih kecil, mengalami kemunduran saraf yang cukup signifikan. Tikus-tikus yang tidak beruntung ini kemudian tumbuh menjadi tikus yang mudah takut dan terkejut. Nah, bagaimana dengan bayi manusia yang diasuh oleh para pembantu dan baby sitter? Saya bukannya melarang kita punya pembantu dan baby sitter yah … tetapi saat mengetahui bahwa EMOSI itu menular, sadarkah kita apa yang sedang anak-anak kita “pelajari” dan “terima” dari orang-orang yang paling dekat berada di sekitarnya? Nilai, keyakinan, dan iman macam apa yang diterima oleh anak-anak kita? Pernah suatu kali saya berbincang dengan seorang ibu, atau tepatnya seorang nenek yah … karena dia sudah memiliki beberapa cucu. Nenek ini masih energik dan masih aktif bekerja. Dia tinggal bersama anak, menantu, dan cucu2nya. Pernah dalam suatu masa, nenek ini mengalami kesulitan. Karena anaknya (perempuan) bekerja, maka cucunya – waktu itu baru ada 1, diasuh oleh seorang pegawai di bawah pengawasan si nenek. Tapi karena si nenek juga bekerja, pengawasannya tidak bisa terlalu optimal bukan? Hingga suatu hari, si nenek melihat ada tingkah laku yang aneh dari cucunya. Karena si cucu yang masih kecil ini bisa berdoa dengan sikap dan gaya PERSIS seperti si pegawai (yang kebetulan berbeda agama / kepercayaan dengan keluarga si nenek). Jangan salah sangka … si pegawai ini tidak ada maksud untuk membuat si anak berpindah kepercayaan / agama. Hanya saja, di dalam asuhan si pegawai, mau tak mau, anak ini pun “tertular” banyak hal, Misalnya … dari apa yang didengarnya (mungkin lagu2, atau acara keagamaan dari radio/ TV yang disetel ama si pegawai), dan juga dari apa yang dilihatnya (yang pasti, saat si pegawai ini sembahyang, si anak juga diajak serta – agar tetap di bawah pengawasannya. Melihat hal tsb, segera si nenek turun tangan dengan memberitahu anaknya perempuan, bahwa sebaiknya anaknya tsb berhenti bekerja dan mengasuh sendiri anak-anaknya. Kira-kira tahun lalu, saya mendapati anak saya menyanyikan sebuah lagu (entah itu dangdut atau pop) – tapi menurut saya itu lagu –maaf- murahan yang ga mutu, sehingga saya jadi heran sendiri, dari mana dia dapat lagu tsb. Setelah saya tanya-tanya, akhirnya saya mendapatkan jawabannya, Seminggu sekali anak saya bersama teman-teman sekelasnya ada kegiatan ice skating yang dikelola oleh sekolah. Untuk itu, anak-anak tsb harus berangkat dari sekolah menuju tempat ice skating dengan naik mobil2 yang sudah dikoordinasi bersama antara sekolah dan para orang tua. Dan tentu saja, hampir setiap mobil dibawa oleh driver. Dari musik yang disetel dalam mobil2 itulah anak saya belajar lagu tsb. Dalam hati saya mulai merenung … apa jadinya anak-anak yang setiap hari diantar si driver dan selalu mendengar lagu ga mutu tsb yah? Kemarin, pas gonta-ganti channel TV … he3x … Saya sempat kaget, karena ada anak remaja dari daerah pinggiran, berdandan menor dan sengaja tampil seksi – karena dia terpilih entah dalam kontes apa, duet bareng pemenang KDI (kontes dangdut Indonesia) dan lagu yang dilantunkannya seputar urusan asmara. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala … kalo ini yang jadi “tontonan”, acara model beginian yang jadi “panutan” … bisa dibayangkan, model pengasuhan ini akan mengantar anak-anak negeri kita ini kemana? Tanpa bermaksud diskriminasi … bukankah bibi, mbak, sus, sopir kita besar di lingkungan yang seperti ini? Bisakah Anda mempercayainya untuk “mengasuh” anak-anak Anda? Nilai, prinsip, serta keyakinan macam apa yang akan ditularkannya pada anak-anak Anda? Karena itu tidaklah berlebihan apa yang dituntut oleh TUHAN bagi setiap keluarga Kristen, karena memang inilah yang terbaik yang bisa kita lakukan bagi anak-anak kita – karena anak-anak kita adalah juga ahli waris di dalam iman. Seperti yang diperintahkan Musa kepada seluruh keluarga Israel sesaat setelah mereka menerima 10 Perintah Tuhan: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Tugas pengasuhan adalah tugas para orang tua, karena kitalah sebagai orang tua yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk men-transfer nilai-nilai, prinsip-prinsip, serta iman dan keyakinan kepada anak-anak kita. Lalu … apa donk tugas-tugas yang bisa kita serahkan pada bibi, mbak, sus, sopir J Silakan teman-teman menanggapi … Fasilitator (Meilania).
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|