|
SI-11: TERAPI KUDA Seberapa menularnyakah emosi kita itu? Menulis materi-materi TOL ternyata menjadi pengalaman yang luar biasa menyenangkan bagi saya pribadi … Entah ini karena “kebetulan” atau benar apa yang dikatakan oleh kalimat bijak berikut: Saat si murid siap, maka guru pun akan muncul. Karena sepanjang saat saya memikirkan tentang aplikasi SI dalam hidup sehari-hari, maka setiap pengalaman hidup, setiap bacaan, setiap tontonan pun seolah ber-tema-kan SI … he3x … Kali ini saya masih akan sekali lagi share tentang acara-acara Oprah Show yang sangat saya nikmati setiap pagi pk 10.00 – 11.00 … Inilah enaknya jadi ibu rumah tangga J yang meski punya segudang aktivitas, saya bisa atur sendiri waktu saya. Hari ini Oprah Show khusus membahas tentang masalah utama yang dihadapi oleh setiap perempuan, khususnya sebagai istri dan sebagai ibu. Hampir semua perempuan terjebak dalam kehidupan yang sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Mulai dari mengurus anak dan suami, bekerja di luar rumah, dan berbagai kesibukan lainnya. Sebagian perempuan terlalu “banyak memberi” sehingga tanpa disadari, mereka sedang mencelakakan diri mereka sendiri. Ada seorang ibu yang setiap harinya, tidur pk 00.30 tengah malam (karena harus mengurus anak, bekerja penuh waktu, dan membereskan urusan rumah), lalu pk 03.45 pagi dia sudah harus bangun untuk mengantar suaminya berangkat kerja. Untuk menjaga supaya dirinya tetap “terjaga” dalam 1 hari dia minum 6 gelas kopi. Ada juga seorang perempuan yang selama 12 tahun mengalami kekerasan dari suaminya, namun terus berusaha bertahan demi anak-anaknya. Saat dia mengambil keputusan untuk “keluar” dari situasi tsb, justru anaknya menatap dia dengan penuh kebencian dan seolah tidak mau memaafkannya. Yang membuat saya sempat terkejut, bahwa ternyata masalah dari kebanyakan perempuan yang “habis-habisan” macam kedua ibu di atas adalah KURANGNYA atau KETIDAKMAMPUAN diri untuk MENCINTAI DIRI SENDIRI. Buat kita orang Kristen, ini seolah aneh … bukankah memang seharusnya kita mendahulukan orang lain? Melayani orang lain? Menganggap kepentingan suami, anak, keluarga lebih penting daripada diri sendiri? Bukankah “mencintai diri sendiri” itu egois dan tidak pantas? Tunggu dulu … Kurang / Tidak Mampu mencintai diri sendiri (lack of self compassion) dalam hal ini justru akibatnya akan sangat membahayakan, bukan saja diri sendiri, melainkan orang-orang yang dicintai juga. Dalam Alkitab dikatakan: Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Saat kita sendiri TIDAK MAMPU mengasihi diri sendiri, maka mana mungkin kita mampu mengasihi orang lain? Tatapan mata si anak yang penuh “kebencian” dan “tiada maaf” dalam kasus di atas, justru sebenarnya adalah CERMINAN dari diri si ibu itu sendiri. Ingat, emosi itu menular! Dan penularannya lewat jalan rendah. Jadi, si anak pun tanpa disadari, tumbuh dan menyerap emosi si ibu, bahkan meng-internalisasinya dalam dirinya sendiri. Anak ini pun akan tumbuh menjadi seseorang yang TIDAK MAMPU mengasihi orang lain, karena dia TIDAK MAMPU mengasihi diri sendiri, karena dia tidak tahu bagaimana caranya mengasihi diri sendiri. Orang2 yang ada dalam hidupnya tidak menularkan, tidak menunjukkan, tidak mengajarkan bagaimana seharusnya dia mengasihi diri sendiri. Yang ditularkan adalah kemarahan, kebencian, ketakutan, dan berbagai emosi negatif lainnya. Saran yang diajukan sebenarnya sangat sederhana – dan itu perlu diketahui oleh setiap perempuan. Karena ternyata, kaum perempuan itu mengambil peran sebagai seorang PENGASUH … dalam sebuah masyarakat, dalam sebuah komunitas, dalam sebuah keluarga, selalu si perempuan lah yang berada pada posisi ini. Karena itu, penting sekali untuk menjaga “kewarasan” diri kita J supaya kita bisa melaksanakan tugas yang mulia ini dengan baik, bukan? Saran tsb adalah … UTAMAKAN terlebih dahulu apa yang Anda butuhkan (baik itu secara fisik, mental, dsb). Ini bukan egois, sama sekali bukan. Karena saat kita FIT secara fisik, mental, dsb … hidup kita itu memancarkan keindahan, dan itu akan menjadi berkat bagi orang lain. Sebaliknya, saat kita engga fit, lagi be te, lagi stress, lagi capek luar biasa, burn out, dsb … kita ini akan jadi RACUN buat orang-orang yang kita cintai dan yang ada di sekitar kita. Masalah lain yang dihadapai oleh kaum perempuan adalah … Konon nih, kata para ahli, bila seorang laki-laki tidak bertindak itu adalah karena dia PIKIR hal tsb tidak penting, tetapi bila seorang perempuan tidak bertindak / tidak melakukan (apa pun itu) bukan karena dia pikir itu tidak penting, tetapi karena dia merasa tidak percaya diri untuk melakukannya. Aneh sekali … tetapi ini ternyata banyak benarnya! Kenapa perempuan sering gagal dalam program diet, gagal dalam hubungan dengan suami atau anak, gagal dalam karir, gagal dalam program olah raga, dsb dsb … BUKAN karena dia pikir itu tidak penting, malah kalo ditanya, mereka akan YAKIN sekali bahwa hal-hal tsb sangat penting! Namun entah kenapa … mereka merasa tidak sanggup, tidak bisa, tidak mampu, tidak kuat ,.. untuk melakukannya, apalagi sendirian. Nah, ada 1 sesi terapi unik yang ditunjukkan dalam acara tsb, yaitu terapi KUDA. Iya bener … dengan kuda. Setiap peserta terapi diminta untuk mendekati seekor kuda, dan terserah bagaimana caranya, masing-masing peserta diberi tugas untuk mengangkat 1 kaki depan kuda tsb (menekuknya ke belakang, sehingga telapak kaki kuda menghadap ke atas) – tentu tanpa kekerasan atau paksaan yah, he3x … Ternyata, hanya orang-orang yang emosinya beres (menjadi dirinya sendiri / “authentic self”) yang dapat melakukan hal tsb … Bayangkan, KUDA pun bisa membaca emosi kita! Dan karenanya, si kuda akan menolak bekerjasama dengan orang-orang yang emosinya ga beres … karena dia merasa “tidak aman” dan “tidak nyaman” dekat dengan orang-orang tsb. Wow … saya baru tahu kalau KUDA pun bisa dipake untuk terapi SI he he hee … Terapi model ini katanya udah berjalan sekitar 25 tahun … ck ck ck … Terapi ini bukan bertujuan untuk mengangkat kaki si kuda sebenarnya, tapi bagaimana melalui tugas tsb masing-masing peserta dapat mengevaluasi dan membereskan dirinya sendiri … anehnya, begitu mereka berdamai dengan diri sendiri, belajar untuk menerima dan mengasihi diri sendiri, dan saat mereka siap serta kembali menghadapi si kuda, eh … tiba-tiba saja si kuda dengan mudahnya diajak kerjasama untuk mengangkat kaki depannya itu. Kalo ga liat sendiri, saya pun tidak akan mempercayainya. Hari ini saya masih terus memikirkan pertanyaan yang saya tulis di atas “Seberapa menularnyakah emosi kita itu?” Bagaimana menurut pendapat teman-teman? Fasilitator (Meilania).
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|