Newsflash

Main Menu

Home
Newsflash

HAPPYLAND

Sekolah Minggu

Training On Line

Training On Line

Statistics

Members: 172
News: 423
Web Links: 5
Visitors: 197259
9 September 2010
Home
SI-5: Jatuh Cinta Print E-mail
Written by Meilania   
Monday, 08 February 2010

SI-5: JATUH CINTA

 

Percayakah Anda pada statement “Love at the First Sight”?

Cinta Pada Pandangan Pertama?

Hmmm … betapa romantisnya … Kiss

Dan bukankah banyak lagu maupun film yang mengangkat tema Cinta Pada Pandangan Pertama ini? Meski demikian, dunia nyata sepertinya kurang sependapat dengan statement tsb, karena pada kenyataannya pernikahan yang langgeng tidak selalu diawali dengan Cinta Pada Pandangan Pertama, bukan?

 

Buat teman-teman yang sudah menikah … bagaimanakah sejarah kehidupan cinta Anda? Ada baiknya kita menoleh ke belakang sejenak, dan menggunakan kasus kehidupan kita pribadi untuk belajar mengenal ttg 2 jalan (jalur) utama yang ada di otak kita, yaitu Jalan Rendah – yang bertanggung jawab terhadap perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama (dan mungkin juga pada pandangan kedua, ketiga, dst), dan Jalan Tinggi – yang bertanggung jawab terhadap keputusan kita untuk akhirnya menikah atau tidak jadi menikah (terlepas apakah kita menikah dengan siapa kita jatuh cinta pada pandangan pertama tsb atau dengan orang lain yang akhirnya kita temukan sebagai pasangan yang tepat).

 

Jalan Rendah beroperasi secara otomatis, di luar kesadaran kita, dan dengan kecepatan super kilat. Sedangkan Jalan tinggi beroperasi dengan kehendak, membutuhkan usaha dan niat sadar, serta bergerak secara lebih lambat.

 

Segala sesuatu yang terkait dengan emosi / perasaan, pastilah masuk melalui Jalan Rendah terlebih dahulu, tetapi, setelah itu, kita punya pilihan untuk menugaskan si Jalan Tinggi mengambil alih situasi BILA kita menghendakinya.

 

Misalnya, saat masih remaja … pernahkah Anda merasa begitu tertarik dengan seseorang, namun entah bagaimana, akhirnya Anda memutuskan untuk tidak menindaklanjuti perasaan senang Anda tsb. Mungkin karena Anda berpikir Anda tidak cukup “menarik” baginya, mungkin Anda kemudian membuat alasan dia sebenarnya bukanlah “tipe” Anda (meski Anda begitu mengharapkan, entah bagaimana, si doi tiba-tiba menghampiri Anda), mungkin pula akhirnya Anda berusaha “mematikan” perasaan senang tsb dengan sengaja menghindarinya, dsb.

 

Ini adalah contoh sederhana, bagaimana Jalan Tinggi mengambil alih pengaruh Jalan Rendah. Tetapi tidak selalu Jalan Tinggi memenangkan kuasa pengendalian atas Jalan Rendah, kadang bisa terjadi Jalan Rendahlah yang menang.

 

Ada seorang remaja perempuan yang tidak disetujui hubungannya dengan kekasihnya oleh orang tuanya, bahkan secara keras kedua orang tua menentang hubungan tsb. Hingga pada suatu kesempatan, si gadis ini mengambil keputusan yang menurutnya, akan dapat “memaksa” kedua orang tuanya untuk mau tak mau merestui hubungannya dengan kekasihnya itu. Dia “menggoda” kekasihnya sedemikian rupa, sehingga akhirnya mereka melakukan hubungan seksual dan berakibat pada kehamilan.

 

Nah, ini kasus yang menarik, karena saat mereka melakukan hubungan seksual, si gadis sebenarnya sedang dipimpin oleh Jalan Tingginya, Sedangkan bagi kekasihnya yang “tergoda” sehingga tak tahan untuk menolak tawaran si gadis, sebenarnya sedang dikuasai / dikendalikan oleh Jalan Rendahnya.

 

Dalam banyak kasus, … bahkan seseorang yang kelihatan sangat rohani pun, tak luput dari kehebatan serangan Jalan Rendah ini. Entah itu anak dari keluarga pendeta, seorang aktivis kerohanian, bahkan para pemimpin kelompok religius sekali pun … bisa ditaklukkan oleh kuasa Jalan Rendah mereka sendiri.

 

Hampir semua kasus kecelakaan MBA (married by accident) adalah hasil kemenangan Jalan Rendah atas Jalan Tinggi. Saat Jalan Rendah membajak Jalan Tinggi, maka yang sedang benar-benar terjadi adalah, Jalan Tinggi benar-benar lumpuh tak berdaya! Hampir mustahil dalam keadaan “dibajak” seperti ini, tiba-tiba si Jalan Tinggi bisa mengambil alih / merebut kendali dari Jalan Rendah.

 

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk membekali anak-anak maupun para remaja, agar Jalan Tinggi mereka selalu diaktifkan dan tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk terjadinya “pembajakan” oleh Jalan Rendah.

 

Dalam bahasa rohani, kita mengatakannya: Janganlah membawa diri sendiri ke dalam pencobaan. Dalam bahasa sehari-hari, ini berarti: Jangan bermain api.

 

Ada pepatah dalam bahasa Jerman yang mengatakan: (maaf, kata-katanya sangat vulgar dan to the point) “Ketika penis menjadi kencang, otak menjadi lemah”

 

Sindiran yang sinis ini jelas-jelas ditujukan pada kaum laki-laki, tetapi mengandung kebenaran yang sangat mendasar. Pada umumnya, kaum laki-laki memang memiliki zat-zat kimia yang membangkitkan nafsu birahi (libido) lebih banyak daripada perempuan. Tingkat / kadar testosterone juga bertanggung jawab dalam hal ini. Semakin tinggi testosteronenya, semakin kuat dan besarlah kemungkinan si pria untuk “dibajak” oleh Jalan Rendah. Para pria dg kadar testosterone tinggi, secara ALAMI, cenderung untuk lebih agresif, terlibat dalam perkelahian serta kekerasan, serta lebih beresiko untuk melakukan hubungan seks di luar nikah.

 

Lalu bagaimana dong? Bukan salah si pria kan kalau dia terlahir dengan kadar testosterone tinggi?  Benar, memang si pria tidak bisa disalahkan karena memiliki testosterone tinggi, TETAPI pria tsb tetap memiliki tanggung jawab untuk hidup benar di dalam Tuhan, bukan? Terlepas dari seberapa tinggi kadar testosteronnya.

 

Kabar baiknya adalah, setiap pria BISA belajar mengendalikan impuls-impuls liar yang diakibatkan oleh testosterone tsb. Yaitu dengan “membiasakan diri” membuat si Jalan Tinggi senantiasa memegang kendali atas Jalan Rendah nya.

 

Lalu, apa hubungannya pengetahuan ini dengan pelayanan kita?

 

Bila Anda memiliki anak laki-laki, atau Anda sedang melayani para remaja, ingatlah bahwa mereka ini sedang dalam pergumulan yang luar biasa besar, bahwa Jalan Rendah mereka, secara alami, senantiasa ingin “membajak” Jalan Tingginya. Tidak heran bahwa para remaja lebih sering marah-marah, be te, kacau dan galau, serta merasa diri diserang oleh berbagai emosi yang tak menentu … ingatlah bahwa ini semua karena reaksi kimia yang sedang terjadi di dalam tubuh DAN otak mereka yang sedang bertumbuh.

 

Buat kita yang sudah menikah, dorongan sex bisa tersalurkan dengan pasangan kita bukan? Sedangkan para remaja harus menunggu hingga mereka dewasa dan menikah kelak. JELAS tantangan mereka jauh lebih besar dari kita lho!

 

Karena itulah kita harus membantu anak-anak dan remaja kita untuk memenangkan “pertempuran” ini dengan melatih Jalan Tinggi mereka. Stimuli apa yang mereka peroleh tiap harinya? Film, komik, novel, pergaulan macam apa yang mengisi otak mereka setiap harinya? Kalau si Jalan Tinggi tidak pernah diisi dengan hal-hal yang baik dan benar, bagaimana bisa si Jalan Tinggi menang melawan Jalan Rendah?

 

Mari, kita layani dan menangkan anak-anak serta remaja kita. Agar mereka menjadi murid Kristus yang taat, yang berani melawan dan berkata tidak kepada kenikmatan sesaat yang membawa mereka jatuh dalam dosa, dan berani memilih untuk hidup kudus serta berkemenangan di dalam Kristus.

 

Salah satu buku yang sangat saya sarankan, khusus mengenai topik ini, adalah buku karangan James Dobson yang berjudul: MENDIDIK PUTRA ANDA, terbitan Immanuel.

 

Selamat melayani anak-anak dan remaja. Tuhan memberkati

Fasilitator (meilania).

This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

 

PS. Jalan Rendah sebenarnya tidak hanya bertanggung jawab thd dorongan libido, dalam kesempatan yad kita akan bicarakan contoh2 lainnya.

 

 

 
< Prev   Next >
© 2010 http://indonesia-educenter.net