|
Arsip: Buletin EUANGELION GII Hok Im Tong, Bandung, edisi 102, Oktober - November 2007 Bayi Super, Balita Jenius Untuk Siapa? Belakangan ini saya sedang asyik berdiskusi bersama teman-teman lama semasa sekolah dan kuliah dulu. Bukannya melepas kangen, ngrumpi, atau ngobrolin masa lalu, kami lebih tertarik untuk membahas masalah pendidikan anak-anak kami yang kebanyakan sedang berada dalam usia BALITA. 2 Aliran yang Berbeda Seorang teman saya, baru saja melahirkan anak keduanya (saat ini si bayi sedang berusia 3 bulan) menanyakan keefektifan Program Bayi Membaca a la Glenn Doman. Kita tahu bahwa sudah puluhan tahun Program Bayi Membaca ini dipraktekkan oleh para ibu di seluruh dunia. Bahkan buku-buku tentang Bayi Membaca (How to Teach Your Baby to Read) termasuk salah satu buku terlaris yang diminati para orang tua. Seminar atau pelatihan untuk program ini nilainya bisa ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Di belakang program ini, masih ada program-program senada lainnya, misalnya: Bagaimana Mengajarkan Matematika kepada Bayi Anda, Bagaimana Agar Bayi Anda Memiliki Pengetahuan Ensiklopedia, Bagaimana Mengajar Bayi Anda Berenang, dsb. Wow … betapa sibuknya para bayi ini yah J Seolah tidak boleh ada waktu terbuang sedikitpun selama 5 tahun pertama kehidupan mereka. Yang kata para ahli, ini adalah usia keemasan seseorang, dimana otak sedang dalam kondisi yang paling prima dan memiliki kemampuan belajar yang luar biasa yang tak akan tertandingi dalam masa-masa perkembangan selanjutnya. Oleh karena itulah, para ortu berlomba-lomba untuk memacu para bayi dan balita mereka selama periode “golden age” ini. Di belahan dunia yang lain, seorang teman saya yang sedang melanjutkan studi di Belanda, baru saja dipanggil oleh Guru TK anak balitanya. Teman saya ini ditegur dengan keras karena telah melanggar “peraturan”. Apa kesalahan teman saya? Ternyata, dia ketahuan telah mengajar anaknya yang masih balita itu, untuk MEMBACA. Bahkan sebenarnya yang dilakukan teman saya hanyalah sekedar mengenalkan HURUF kepada anaknya yang masih balita. Dan dia ditegur karena kelancangannya mengajar anak membaca sebelum usianya dianggap cukup untuk belajar membaca, yaitu 6 tahun. Saya hanya bisa tersenyum geli sembari membalas e-mail teman-teman saya ini. Menarik sekali fenomena pendidikan anak balita yang tengah terjadi di dunia kita ini, bukan? Di satu sisi, ada aliran yang seolah ingin “menjejalkan segala sesuatu” kepada para bayi dan balita. Bukannya tanpa alasan, melainkan semuanya ini dilakukan berdasarkan temuan riset terkini tentang fungsi otak manusia dan perkembangannya. Sementara di sisi yang lain, ada aliran yang memiliki pandangan berbeda 180 derajat. Juga didukung oleh hasil riset yang sama, masih tentang fungsi otak dan perkembangannya. Jadi, bagaimana ini? … Mengapa hasil riset yang sama bisa ditafsirkan dan memiliki implikasi yang begitu berbeda – bagaikan 2 kutub yang saling berjauhan? Atau … benarkah mereka berada di 2 kutub yang berbeda? Mungkinkah ada penjelasan yang menjembatani kedua pandangan tsb? Mari kita coba untuk memahami filosofi dan latar belakang aliran pertama yang saya sebutkan di atas, yaitu program-program yang dirancang khusus bagi para bayi dan balita. Sejarah lahirnya Metode Membaca bagi Para Bayi Awalnya, ide ini dipicu oleh salah seorang pasien cedera otak yang ditangani oleh Glenn Doman yang bernama TOMI. Tomi adalah seorang anak yg memiliki cedera otak yg sangat parah. Kemana pun ayah ibu Tomi mengkonsultasikan kondisi anaknya, semua ahli yang ditemui hanya bisa angkat tangan dan menyarankan Tomi untuk tinggal saja di sebuah panti asuhan bagi anak cacat (dan tinggal di sana seumur hidupnya dengan bergantung pada para perawat – sungguh tidak ada harapan apa pun yang tersisa bagi Tomi). Tetapi, untungnya kedua orang tua Tomi tidak mau menyerah dg keadaan. Hingga suatu hari, mereka mendengar tentang apa yang dikerjakan oleh Glenn Doman dan timnya (The Institutes for the Achievement of Human Potential) di Philadelphia serta membawa Tomi ke sana. Tim Glenn Doman memberi orang tua Tomi program-program terapi yang harus dilaksanakan di rumah. Alhasil, Tomi mendapat kemajuan yang sangat baik, bahkan jauh dari harapan siapa pun. Nah, sementara menjalan program-program terapi, ibu Tomi mengajari Tomi membaca Saya yakin, tidak ada seorang ibu berpendidikan tinggi yang akan punya ide mengajari anaknya yang cedera otak parah dan sudah divonis tidak ada jalan keluar apa pun, untuk MEMBACA. Syukurlah ibu Tomi bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Dan itulah yang terus dilakukan oleh ibu Tomi. Bahkan Glenn Doman pun (pada waktu itu) tidak pernah memberi perhatian serius saat kedua orang tua Tomi melaporkan perkembangan si anak dan mengatakan bahwa Tomi bisa membaca. Baru setelah beberapa kali pertemuan (dimana laporan mereka selalu diabaikan) ... si ayah mempraktekkan sendiri dengan menunjukkan bahwa Tomi BISA membaca di depan Glenn Doman. Baru pada saat itulah Glenn Goman "tersadar". Bahwa anak cedera otak ternyata BISA diajar membaca. Mulailah Glenn Doman dan tim merancang program membaca bagi para pasien cedera otak. Jadi sebenarnya, Metode Bayi Membaca ala Glenn Doman (dan metode-metode lainnya), mulanya diciptakan dan dirancang untuk membantu OTAK anak-anak (yang cedera otak) agar dapat dirangsang, diajar kembali, untuk mengembalikan fungsi-fungsi otaknya agar bisa mendekati fungsi normalnya / yang seharusnya. Hingga pada suatu saat, muncullah pemikiran yang sangat brilian ... Kalau anak yang cedera otak saja bisa sedemikian "pesat" perkembangannya (dalam hal ini kemampuan membacanya), apalagi bila metode-metode tsb diterapkan pada anak-anak normal yang otaknya mampu berfungsi dengan baik. Dan sejak itu, Glenn Doman mulai membentuk satu tim khusus lain (dari timnya semula yang menangani anak cedera otak). Dengan tugas membantu para orang tua dari anak-anak normal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang para bayi dan balitanya. Mal-praktek temuan Glenn Doman Dalam perkembangan selanjutnya, Metode Bayi Membaca ala Glenn Doman mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari para orang tua. Baik orang tua yang memiliki anak cedera otak maupun orang tua yang memiliki anak normal. Seolah semua orang tua ingin berpacu untuk menjadikan anaknya BAYI SUPER atau BALITA JENIUS. Dengan semangat dan antusias yang luar biasa, mulailah para orang tua menjejali bayi dan balita mereka dengan berbagai program yang dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan si anak. Tiba-tiba saja, kehidupan para bayi dan balita BERUBAH. Yang semula dijalani dengan penuh sukacita, keriangan, penuh tawa dan cinta kasih, sekarang menjadi program-program terstruktur, jadwal yang padat, seolah tak boleh ada 1 menit pun yang terlewatkan tanpa program yang “bermanfaat” bagi perkembangan otak mereka. Padahal, ada SATU syarat yang acapkali terlewatkan oleh para orang tua yang sedang antusias untuk men-cetak anak jenius ini, yaitu bahwa program-program tsb di atas harus dilaksanakan dalam suasana yang FUN. Tidak ada unsur tekanan, paksaan, atau emosi negatif lainnya. Itulah sebenarnya “kunci” pembelajaran yang sejati. Celakanya, saking antusiasnya dengan Program Bayi Super ini, tiba-tiba para orang tua menjadi orang tua yang mudah gelisah (mengapa anak tetangga lebih cepat kemajuannya dibanding anak saya), kuatir (benar tidak bayiku bisa diajar membaca), tertekan (bagaimana cara saya mengetes kemampuan bayi saya), tidak sabar (sudah sampai dimana ya kemajuan bayi saya), bahkan akhirnya terlalu menuntut – si bayi sekarang tidak punya waktu lagi untuk asyik bermain atau sekedar melakukan apa yang ingin dilakukannya. Semua jadwal hidupnya sudah terprogram dengan sesi-sesi pen-cerdasan yang diatur oleh orang tuanya. Bagi para orang tua yang berencana atau sedang mempraktekkan Metode temuan Glenn Doman, harap diingat bahwa Glenn Doman sendiri berpesan sbb. “Agaknya yang paling penting adalah bahwa membaca memberi Anda kesempatan yang lebih banyak untuk membina hubungan pribadi yang akrab dan membangkitkan minat Anak Anda. Manfaatkanlah setiap kesempatan untuk berada bersama anak Anda. Kehidupan modern cenderung memisahkan ibu dari anaknya. Ini kesempatan baik untuk berada bersama-sama. Kasih sayang, penghargaan dan kekaguman yang akan lebih berkembang melalui kontak-kontak seperti itu jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan sedikit waktu yang Anda perlukan untuk itu.” Dalam bukunya yang berjudul "Mengajar Bayi Anda Membaca" Glenn Doman mengatakan bahwa ada SANGAT banyak teknik / cara membaca yang digunakan oleh para ibu di seluruh dunia. Dari semuanya yang berhasil, hanya ada SATU ciri yang sama, yaitu apabila si anak HAPPY alias dalam keadaan FUN saat belajar. Main – Main - Main Di tengah hiruk pikuk para orang tua yang berambisi membuat bayi dan balitanya menjadi anak yang SUPER JENIUS, muncullah pandangan lain yang mencoba untuk mengimbangi dan menyadarkan kembali para orang tua akan apa yang benar-benar PENTING bagi bayi dan balita mereka. Yaitu DUNIA BERMAIN yang penuh kebebasan dan keceriaan. Jauh dari tekanan-tekanan akademik. Jauh dari target-target yang dipaksakan. Jauh dari program-program terstruktur yang sangat kaku dan menjerat kebebasan anak. Kebanyakan orang tua, juga para guru zaman sekarang, cenderung memiliki keyakinan yang kurang tepat bahwa bermain tidaklah terlalu penting. Bermain hanya akan menghabiskan waktu berharga anak yang seharusnya digunakan untuk “belajar hal-hal penting” yang berguna kelak dalam hidup mereka. Menurut pandangan kelompok ini, anak-anak tidak akan belajar apa pun saat mereka “hanya” bermain. Benarkah demikian? Ternyata SEBALIKNYA. Anak-anak justru belajar banyak hal saat mereka sedang bermain, terutama bermain BEBAS dan bermain yang benar-benar MAIN, tanpa ada maksud-maksud terselubung di balik permainan tsb. Berikut adalah jenis-jenis permainan yang sangat dianjurkan bagi para balita. - Konvergen vs Divergen
Sebenarnya tidak ada yang salah atau pun yang buruk dengan permainan konvergen, yaitu jenis permainan yang menuntut adanya satu saja jawaban yang benar. Contoh yang paling jelas dari permainan konvergen adalah permainan puzzle. Tetapi, selain jenis permainan konvergen, anak-anak balita juga membutuhkan jenis permainan divergen, yaitu jenis permainan yang TERBUKA, dimana bisa ada 2 atau 3 bahkan 1.000 jawaban yang benar. Jenis permainan divergen mengajak anak balita untuk melihat realita bahwa di dunia ini ada sangat banyak alternatif jawaban atau penyelesaian masalah. Jenis permainan divergen ini juga merangsang anak untuk tumbuh menjadi lebih kreatif serta mampu memecahkan masalah. Ada sebuah riset menarik yang mencoba membandingkan efek dari kedua jenis permainan ini. Berikut adalah kisahnya … Ada 2 kelompok anak balita. Kelompok-1 diberi berbagai jenis mainan konvergen dan Kelompok-2 diberi berbagai jenis mainan divergen selama beberapa waktu yang telah ditentukan. Kemudian, kedua kelompok diberi masalah yang sama, yaitu: mereka diminta untuk membangun sebuah desa dengan menggunakan 45 keping mainan. Para Peneliti mengamati apa yang dilakukan oleh anak di masing-masing kelompok, menghitung jumlah struktur bangunan mereka, dan nama-nama yang mereka gunakan saat membuat bangunan tsb. Kelompok-1, karena telah terbiasa dengan jenis permainan konvergen (yang hanya menuntut satu jawaban benar) segera saja mengalami kebuntuan dan cenderung melakukan hal yang sama berkali-kali saat mereka menghadapi sebuah masalah. Anak-anak di kelompok ini juga cenderung lebih cepat menyerah dibanding kelompok yang ke-2. Nah, bagaimana dengan anak-anak di kelompok-2? Menarik sekali, karena telah terbiasa dengan jenis permainan divergen (dimana ada banyak jawaban yang benar) anak-anak di kelompok-2 bisa membentuk struktur bangunan lebih banyak dan mampu menciptakan nama-nama yang unik untuk setiap bangunan mereka. Anak-anak di kelompok ini juga cenderung lebih ulet, banyak berusaha, tidak mudah menyerah, dan lebih kreatif dibanding kelompok yang ke-1. Tidak heran, bila saat ini banyak orang tua yang mengeluh bila musim libur sekolah telah tiba. Anak-anak mereka menjadi bosan, jenuh, dan sepertinya tidak tahu apa yang harus dikerjakan di rumah. Mengapa bisa demikian? Karena anak-anak dari keluarga “konvergen” semacam ini telah terbiasa hidup di dalam struktur, semua jadwal rapi tersusun, semua aktivitas dilakukan menurut rencana dan program yang matang, hampir tidak ada kesempatan bagi anak untuk melakukan HAL-HAL LAIN di luar apa yang sudah diprogramkan orang tua. Sehingga tanpa disadari, anak-anak ini kehilangan sumber daya yang mereka perlukan untuk sekedar “menghibur” diri mereka sendiri. Bahwa sebenarnya, ada BANYAK hal yang bisa dilakukan di luar jadwal. - Bermain pura-pura - kreativitas dan Imajinasi
Masih terkait dengan 2 jenis permainan di atas, Konvergen vs Divergen, ternyata semakin maju permainan pura-pura seorang anak (semakin berkembang imajinasinya) semakin baik pula anak-anak ini dalam menyelesaikan masalah yang divergen. Bukankah di dalam hidup lebih sering kita jumpai masalah yang divergen, yang menuntut tidak hanya ada satu jawaban yang benar? Seorang psikolog Rusia yang terkenal, Lev. S. Vygotsky mengatakan bahwa anak-anak berada dalam tingkat pertumbuhannya yang tertinggi saat sedang bermain. Dalam permainan pura-pura, anak-anak dapat melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Dia dapat menjadi seorang astronot yang terbang ke luar angkasa, dia dapat menjadi seorang insinyur yang membangun gedung yang tinggi, dia dapat menjadi seorang balerina yang terkenal, dsb. Dalam permainan pura-pura, anak juga dapat membedakan antara pikiran dan tindakan. Anak-anak bisa melihat suatu benda melampaui wujud dan sifat asli benda tsb. Misalnya, saat anak sedang ingin main mobil-mobilan tetapi yang ada di depannya hanyalah balok kayu, maka dia dapat memainkan balok kayu tsb seperti layaknya sebuah mobil-mobilan tanpa mengubah bentuk balok kayu itu sedikitpun. Dalam permainan pura-pura, anak juga belajar untuk menumbuhkan kemampuan pengendalian diri. Misalnya, seorang anak bisa saja berpura-pura menangis (karena dia sedang memerankan tokoh sang bayi yang sedang rewel karena ibunya tidak ada), lalu tiba-tiba berhenti saat boneka ibu datang menghampiri dan menggendong sang bayi. Lebih lanjut Prof Vygotsky mengatakan bahwa permainan pura-pura yang lazim dilakukan oleh anak sebenarnya adalah suatu permainan KEBUDAYAAN. Dimana anak-anak kita sebenarnya sedang meng-ekspresikan ulang apa yang mereka serap dari lingkungan sekitarnya. Walaupun demikian, seringkali anak-anak balita menginterpretasikan dunia dengan cara mereka sendiri yang unik. - Bermain bebas: anak yang pegang kendali
Tahukah kita bahwa sebenarnya proses bermain memberikan rasa berkuasa pada anak-anak? Dan dengan membiarkan anak bermain bebas, anak-anak sedang berlatih untuk mampu memegang kontrol atas diri dan lingkungannya. Bermain bebas artinya anak-anak sendiri yang pegang kendali. Ini adalah suatu kesempatan yang berharga bagi anak untuk mengembangkan imajinasinya, untuk belajar memilih dan memutuskan, serta memecahkan masalah yang timbul saat dia sedang bermain. Anak saya yang kedua, Fay (hampir 5 tahun, waktu itu) suka sekali dengan acara Peque Prix (ini adalah sebuah program TV dari Spanyol, dimana ada 2 sekolah yang berlomba dengan berbagai macam jenis permainan, sebagian besar permainan adalah berupa tantangan fisik dan dalam beberapa kesempatan juga melibatkan seekor anak banteng. Sayangnya program anak-anak ini sudah berakhir masa tayangnya). Nah … suatu kali, saat saya sedang membersihkan kamar, saya mengangkat sebuah kasur dan membuatnya berdiri bersandar di kasur yang lainnya. Tiba-tiba anak saya melihat hal itu sebagai “permainan mendaki gunung” seperti yang dilihatnya di Peque Prix. Segera saja dia mengenakan sarung tangan, kaos kaki dan mulai melakukan permainan “mendaki gunung” dan tentu saja “meluncur” turun gurung setelahnya. Kemudian timbul ide untuk menggunakan tali, dimana dia dapat berpura-pura mendaki sambil berpegangan pada tali tsb. Timbul 2 masalah di sini: [1] Pakai tali apa? [2] Mau diikat di mana tali tsb? Akhirnya Fay memutuskan untuk menggunakan tali meronce (yang ukurannya sangat kecil karena seharusnya digunakan untuk meronce manik-manik dan menurut saya sangat tidak sesuai untuk tali “mendaki gunung” … tetapi saya biarkan saja), dan dipilihlah sebuah guling untuk tempat mengikatkan tali tsb. Terlepas dari kenyataan bahwa Fay memilih bahan yang kurang tepat (menurut saya), tetapi dalam proses bermain bebas ini, Fay sedang belajar untuk memegang kendali atas diri dan lingkungannya, dia juga sedang belajar untuk memilih dan memutuskan saat menghadapi sebuah masalah, dia juga sedang belajar untuk menjadi lebih kreatif agar imajinasinya tentang Peque Prix bisa tersalurkan melalui aktivitas bermainnya tsb. Sejak saat itu, setiap tayangan Peque Prix disiarkan, bukannya Fay duduk manis menonton, sebaliknya dia justru ikut aktif “naik turun gunung” sementara pesawat TV menyala di hadapannya. Karena kami tidak punya anak banteng di rumah, maka anjing kesayangan keluarga kami yang dijadikannya banteng. Dia sedang mencoba “menghidupkan” Peque Prix di rumahnya. Alhasil, jenis permainan ini membuat suasana di rumah kami semeriah suasana di studio Peque Prix J Anak Sukses, Anak Bahagia Sebagai orang tua dari anak balita, tentu kita ingin masa depan anak kita sukses dan anak kita dapat hidup bahagia. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Metode Bayi Membaca serta berbagai hal lainnya yang dapat digunakan untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang balita kita. Hanya saja, di tengah upaya mencoba memberikan yang terbaik bagi balita kita, hendaknya kita tidak sekedar mengikut arus / tren dunia. Melainkan dapat dengan bijaksana memilih serta memutuskan apa yang terbaik bagi tumbuh kembang balita kita. Ukuran “sukses” menurut dunia adalah bila anak kita kelak mampu berprestasi di sekolah, di tempat kerja, maupun di lingkungannya. Oleh sebab itu, tak heran bila banyak orang tua berlomba-lomba “menanam investasi” program-program bagi bayi dan balitanya. Karena “sukses” jenis inilah yang sedang dikejarnya. Ukuran “bahagia” menurut dunia adalah bila anak kita kelak mampu mendapatkan apa yang diinginkannya. Apa yang dicita-citakannya, kehidupan seperti apa yang diidamkannya, serta memperoleh angan-angannya. Oleh sebab itu, tak heran juga bila banyak orang tua berusaha sekuat tenaga untuk “memberikan yang terbaik” dan mem-fasilitasi segala keinginan anak agar harapannya di masa depan dapat terwujud. Tetapi, “sukses” dan “bahagia” menurut ajaran Kristus tidak hanya berhenti pada upaya memaksimalkan potensi diri anak, melainkan juga agar si anak kelak mengetahui panggilan hidupnya sesuai dengan rencana Tuhan serta mampu memanfaatkan segala talenta dan karunianya untuk menjadi berkat bagi sesamanya dan memuliakan Tuhan. Jadi, bila setelah berbagai Program Bayi Super dan Balita Jenius berhasil kita lakukan dan Tuhan meminta anak kita yang “super dan jenius” itu untuk melayaniNya, katakanlah sebagai misionaris di sebuah suku terpencil di negara miskin. Adakah kita menyambut panggilan ini dengan sukacita, atau (mungkin) kita “menawar” agar jangan anak kita yang “super dan jenius” ini yang diminta Tuhan. Yang lain bolehlah Tuhan … tapi jangan yang “super” ini … karena sudah susah payah nih, investasinya, kan sayang …. Dari jawaban kita lah akan diketahui apa sebenarnya MOTIVASI kita di balik segala upaya “memberikan yang terbaik” bagi balita kita (atau mungkin maksudnya, bagi diri kita sendiri?). Sebagai orang tua, mungkin kita perlu melakukan refleksi … adakah kita sedang menggenapi rencana Tuhan melalui tanggung jawab kita sebagai orang tua, membesarkan anak-anak titipan Tuhan, ataukah kita sedang mencoba menggenapi rencana maupun ambisi pribadi kita semata? |