Newsflash

21 December 2014
Tembok Yerikho PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Written by Fransye Monita   
Tuesday, 04 December 2007

 

 

From: "Fransye Monita" < This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it >
To: "Diskusi e-BinaGuru" < This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it >
Subject: [i-kan-binaguru] Sharing : Tembok Yeriko
Date: Tue, 25 Apr 2006 08:21:55 +0700
 

 >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<

---------------------------------------------------------------------

e-BinaGuru -- MILIS DISKUSI PARA PELAYAN ANAK DAN GURU SEKOLAH MINGGU 

---------------------------------------------------------------------

 >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<   >()<

 

Hari minggu kemarin, bahan Alkitab untuk kebaktian anak digereja kami adalah

tentang runtuhnya tembok Yeriko. Kisah ini cukup familiar di telinga

anak-anak usia sekolah minggu, bahkan dapat mereka ceritakan kembali dengan

sangat baik.  Hal ini membuat saya agak " bingung " bagaimana membawakan

bahan ini dikelas 4 dan 5, yang anak-anaknya cukup " bawel" dan " kritis ".

Terbayang baru mendengar judulnya saja, komentar mereka pasti macam-macam

seperti : " ah, aku sudah tahu cerita itu kak !" atau " aku punya vcd-nya

loh " atau " itukan yang temboknya nanti runtuh " dan lain sebagainya. Saya

pun memutuskan untuk mengajak mereka membaca dan membahas ayat demi ayat,

membawa mereka menjadi bagian dari orang Israel saat itu.

 

Namun, kemarin saya justru bersama-sama dengan anak-anak "bawel" ini

menemukan sesuatu yang baru buat kami dari kisah tembok Yeriko, yang teryata

masih tetap  " menarik."

 

Dalam persiapan mengajar sebelumnya, kami para pelayan anak sepakat tujuan

khusus dari bahan ini adalah agar anak-anak percaya dan taat bersaat teduh

seperti bangsa Israel yang taat mengelilingi kota Yeriko selama 7 hari

lamanya. Latar belakang dari tujuan khusus ini adalah karena anak-anak

sekolah minggu kami ternyata masih belum setia bersaat teduh setiap hari.

Bahkan karena bahan saat teduh yang kami bagikan untuk 6 hari harus

dikumpulkan, ada yang mengerjakan semua bahan dalam 1 hari atau beberapa jam

sebelum kebaktian dimulai. Membuat anak-anak memahami cara Tuhan yang aneh

untuk mengalahkan Yeriko sudah sulit rasanya, apalagi untuk menghubungkan

cara Tuhan ini dengan ketaatan mereka bersaat teduh.

 

Ketika saya sedang bercerita, seorang anak kelas  4 SD bernama Gilang

bertanya begini : " Kak, orang-orang yang tinggal di kota Yeriko itu baik

atau jahat ? Kok, Tuhan memberikan kota mereka kepada bangsa Israel ? "

 

Kami baru saja membaca Yosua 6 : 2 dan saya sedang menjelaskan tentang luas

kota Yeriko, temboknya yang kokoh dan orang-orang-nya yang gagah perkasa

ketika Gilang mengajukan pertanyaan itu. Dengan munculnya pertanyaan kritis

dari Gilang, tujuan pelajaran hari itu sempat terhilang dari pikiran saya.

Saat kami semua sedang berpusat pada orang Israel dan tembok Yeriko, Gilang

justru melihat orang dan kota Yeriko itu sendiri. Entah mengapa saya melihat

pertanyaan Gilang harus segera direspon, karena pertanyaan ini berhubungan

dengan keberadaan mereka bergaul atau bersekolah dengan teman-teman yang

tidak seiman. Saya pun menjawab bahwa ini yang Tuhan lihat bukan baik atau

jahat. Orang Yeriko ada yang baik dan juga ada yang jahat, tetapi berbeda

dengan bangsa Israel, orang Yeriko tidak percaya dan tidak menyembah Tuhan,

karena itu mereka diserahkan Tuhan kepada bangsa Israel. Buktinya Rahab

seorang Yeriko selamat karena percaya kepada Tuhan. Jawaban saya itu

ternyata masih menyisakan pertanyaan buat Gilang, tapi ia kemudian diam dan

menunggu saya melanjutkan cerita.

 

Saya pun kembali meneruskan dengan bertanya kepada anak-anak begini : "

Adik-adik, kalau saat ini kakak berkata bahwa kakak akan menjadikan kalian

penguasa kota depok jika kalian mau mengeliligi kota depok ini sebanyak 7

kali, apakah kalian percaya ? " Dengan spontan seisi kelas menggelengkan

kepala, bahkan ada diantara mereka yang meneriakkan ketidak percayaan

mereka.  Kembali ke kitab Yosua, saya tanyakan kepada mereka : " Kalau

begitu menurut adik-adik, mengapa Yosua dan bangsa Israel mau mengelilingi

kota Yeriko selama 7 hari ? " Beberapa diantara mereka menjawab : " karena

Tuhan yang memberikan perintah kepada Yosua dan bangsa Israel ", dan

beberapa anak lainnya berkata : " karena bangsa Israel percaya kepada Tuhan.

"

 

Kemudian saya mengajak mereka melihat bagaimana Yosua dan bangsa Isarel

mewujudkan percaya mereka dengan mengelilingi kota Yeriko selama 7 hari.

Satu strategi yang aneh dari Tuhan. Anak-anak terbiasa menonton film-film

action, bahkan saat ini mereka sedang gandrung nongkrong di warnet dan

tenggelam dalam on line games yang penuh dengan strategi penyerangan untuk

mengalahkan lawan. Kami sama-sama membaca bahwa pada hari 1 s/d 6, kota

yeriko hanya dikelilingi 1 kali, dan pada hari ke 7 harus dikelilingi

sebanyak 7 kali. Strategi ini tentunya aneh bagi anak-anak, tetapi karena

selama ini sekolah minggu mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi

Tuhan, maka anak-anak 'terpaksa' menerima strategi ini dan cenderung kepada

pemahaman bahwa karena Tuhan itu kan Maha Kuasa maka strategi aneh pun bisa

saja terjadi. Mereka tidak melihat pesan dibalik strategi "aneh" tersebut.

 

Kembali dengan polosnya pikiran seorang anak, Gilang pun bertanya : " Kak,

apakah orang Israel tidak berhenti untuk istirahat ? " Rupanya ia menangkap

pengantar cerita saya bahwa yang orang Israel kelilingi adalah kota Yeriko

bukan hanya tembok seperti benteng Takeshi sehingga  pasti lelah dan

membutuhkan istirahat.

 

Pertanyaan Gilang cukup membuat saya kaget, karena saya sendiri tidak pernah

berpikir ke sana. Saya pun mengajak anak-anak untuk membayangkan keadaan

bangsa Israel waktu itu. Bagaimana Yosua harus mengatur sekian puluh ribu

orang bangsa Israel dan menyusun barisan mereka sesuai dengan perintah

Tuhan. Bukan hal yang mudah segera terbayang dalam benak mereka. Dan kalau

mereka harus mulai mengelilingi kota Yeriko pukul 7 pagi ( sengaja saya

ambil jadwal sekolah ), jam berapa orang Israel harus bangun dan berbaris ?

Anak-anak pun mulai melongo seolah-olah mereka dapat membayangkan betapa

sulitnya saat itu. Dan untuk menjawab pertanyaan Gilang, kami sama-sama

membaca Yosua 6 : 10. Dari ayat ini saya dan anak-anak sepakat bahwa orang

Isarel tidak diijinkan untuk berbicara sepatah katapun termasuk berkeluh

kesah dan mereka terus berjalan tanpa berhenti untuk beristirahat. Mereka

juga pasti ingin tahu apa yang akan terjadi setelah 7 kali berkeliling pada

hari ke tujuh kemudian bersorak kencang setelah sangkakala dibunyikan.

 

Dan sampailah kami pada hari ke tujuh dimana tembok Yeriko akhirnya

diruntuhkan. Hari itu anak-anak seolah-olah berada ditengah bangsa Israel,

karena mereka serentak menghembuskan nafasnya ketika membaca tembok Yeriko

pun runtuh. Saat itu saya  bertanya kepada mereka : " Menurut adik-adik

siapakah yang membuat tembok Yeriko runtuh ? " ( Sengaja saya tidak

memberikan option pada pertanyaan ini ) Dan betapa leganya saya ketika

anak-anak dengan serentak menjawab : " Tuhan ! " Bukan karena bangsa Israel

mengelilingi kota itu 7 hari, tetapi Tuhanlah yang meruntuhkan tembok

Yeriko. Yosua dan bangsa Israel bisa menyaksikan strategi  aneh nya Tuhan

terjadi karena mereka percaya dan taat melakukan perintah Tuhan."

 

Yup, tibalah saya untuk masuk dalam tujuan pelajaran hari itu. Rasanya

terlalu mudah dan kurang ' berarti " untuk langsung mengatakan kepada

anak-anak bahwa mereka harus juga percaya dan taat kepada Tuhan seperti

Yosua dan bangsa Israel dengan cara rajin bersaat teduh setiap hari. Mereka

sudah bosan mendengar " kuliah " saya setiap minggu bahwa bahan saat teduh

yang kami buat dan bagikan adalah untuk dikerjakan hari demi hari bukan

sekaligus dalam satu hari. Harus ada cara lain untuk memotivasi anak-anak.

Cara inilah yang membawa satu pemahaman baru ( bisakah dikatakan tafsiran

? ) dari kisah tembok Yeriko bagi saya dan anak-anak tentang waktu teduh dan

ibadah minggu.

 

Saya kemudian mengajak anak-anak melihat kembali strategi Tuhan meruntuhkan

tembok Yeriko dengan membuat perkiraan waktu sbb ;

 

Hari  ke 1 , berkeliling satu kali, dengan waktu 3 jam

 

Hari  ke 2 , berkeliling satu kali, dengan waktu 3 jam

 

Hari  ke 3 , berkeliling satu kali, dengan waktu 3 jam

 

Hari  ke 4 , berkeliling satu kali, dengan waktu 3 jam

 

Hari  ke 5 , berkeliling satu kali, dengan waktu 3 jam

 

Hari  ke 6 , berkeliling satu kali, dengan waktu 3 jam

 

Hari ke 7  , berkeliling tujuh kali dan bersorak dengan waktu +/- 21 jam



Untuk membuat perbandingan, saya bertanya kepada anak-anak yang rajin saat

teduh, berapa lama waktu ia bersaat teduh 1 hari dan ia menjawab +/- 20

menit. Karena ada pendapat-pendapat lain maka kami sepakat untuk menetapkan

30 menit, kemudian kami susun sebagai berikut :

 

Hari ke 1 = hari senin, bersaat teduh paling lama 30 menit

 

Hari ke 2 = hari senin, bersaat teduh paling lama 30 menit

 

Hari ke 3 = hari senin, bersaat teduh paling lama 30 menit

 

Hari ke 4 = hari senin, bersaat teduh paling lama 30 menit

 

Hari ke 5 = hari senin, bersaat teduh paling lama 30 menit

 

Hari ke 6 = hari senin, bersaat teduh paling lama 30 menit

 

Hari ke 7 = hari minggu, beribadah bersama di sekolah minggu +/- 1 jam



Selama mengelilingi kota Yeriko, orang Israel ingat  akan perintah Tuhan

agar menjaga sikap dan mulut mereka. Waktu berkeliling tidak termasuk

mempersiapkan barisan. Kami mencoba membayangkan repotnya orang Israel harus

bangun pagi-pagi benar. Mungkin ada diantara mereka yang malas, ogah-ogahan,

susah sekali untuk dibangunkan, ada juga yang "ngomel". Tapi mereka bisa "

melawan " semua perasaan itu dan kemudian berbaris rapi dibawah pimpinan

Yosua. Bahkan mereka sanggup untuk tertib dan tidak mengucapkan sepatah kata

pun selama mengelilingi kota Yeriko. Orang Israel harus berjalan 3 jam,

sementara untuk bersaat teduh rutin setiap hari kita hanya membutuhkan waktu

30 menit. Dan hari ketujuh, orang Israel harus berjalan 21 jam, sementara

kita hanya  sekolah minggu kira-kira 1 jam. Tapi orang Israel taat dan tidak

mengeluarkan sepatah katapun dari mulut mereka.

 

Bagaimana dengan kita sekarang sebagai anak-anak Tuhan ? Kita pun harus

mengingat perintah Tuhan dan melakukannya setiap hari. Caranya adalah dengan

bersaat teduh setiap hari tanpa mengeluh atau bosan. Anak-anak langsung

teringat apa yang mereka ucapkan saat bertanya mengapa mereka sulit bersaat

teduh dengan rutin setiap hari. Kita masih suka malas , mengeluh banyak PR,

harus les, mengantuk, ada film kartun kesayangan dan lain sebagainya,

sehingga saat teduh pun asal-asalan bahkan dirangkap dalam satu hari. Dan

untuk diam dan tenang mendengarkan dan membahas Firman Tuhan 1 jam saja di

sekolah minggu, kita masih suka mengeluh bukan ? Bahkan malas membuka mulut

untuk bernyanyi memuji Tuhan. Rupanya dengan cara ini anak-anak lebih paham

termotivasi., terlihat dari wajah-wajah mereka yang nampak bersalah

sekaligus bersemangat. Dan saya tidak mau menambah rasa bersalah mereka

dengan meminta mereka berjanji untuk rajin saat teduh seperti biasanya.

 

Alhasil jam kebaktian kelas 4&5 pada hari itu berlangsung lewat dari

waktunya dan anak-anak kelas kecil yang akan memakai ruangan sudah tidak

sabar menunggu didepan pintu. Terima kasih Tuhan atas pemahaman baru dari

kisah tembok Yeriko ini, biarlah Roh Kudus menanamkan  pemahaman yang lebih

lagi didalam hati anak-anak.

 

Malam hari ketika saya kembali merenungkan apa yang kami alami dikelas siang

tadi, saya kembali melihat bahwa tembok Yeriko adalah symbol dari "sesuatu"

yang terlebih dahulu harus diruntuhkan oleh bangsa Israel sebelum mereka

masuk dan menguasai Yeriko. Melihat latar belakang bangsa Israel yang mudah

mengeluh dan bersungut-sungut, jelaslah bahwa tembok Yeriko melambangkan

bahwa sikap itu yang harus mereka runtuhkan sebelum mereka masuk kota

Yeriko. Terlalu mudah bagi Tuhan untuk dapat langsung memberikan Yeriko

kepada Israel, tetapi Tuhan lebih memilih untuk   "mendidik" Israel. Mereka

harus tertib, tidak berbicara satu kata pun. Mereka harus meruntuhkan

"sungut-sungut" atau "manja" mereka, baru mereka bisa melihat kuasa Tuhan

yang luar biasa.  Baru mereka bisa bersorak dengan gempita menyambut

kemenangan yang Tuhan berikan. Kalau saat paskah anak kami sudah memahami

batu kubur itu sudah tergulir, lewat kisah tembok yeriko, kami dapat melihat

bahwa tembok itu sudah runtuh. Dan saya pun tidak sabar lagi menunggu hari

minggu untuk membagikan ini kepada anak-anak.

 

---------------------------------------------------------------------

 Untuk bergabung kirim e-mail ke:   < This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it >

 

 

 

Last Updated ( Tuesday, 25 December 2007 )
 
Next >
© 2014 http://indonesia-educenter.net